Pengalaman Saat Mengabdi

5 min read

Assalamu’alaikum Warohmatullahi Wabarokatuh

Puja puji serta syukur marilah kita panjatkan kehadirat Ilahi Robbi yang mana telah memberikan beribu-ribu macam nikmat, terutama nikmat Iman, nikmat Islam, dan nikmat sehat wal’afiat, sehingga saya dapat dimudahkan dalam penulisan artikel saya yang ke lima ini.

Sholawat serta salam marilah kita haturkan kepada junjungan alam Nabi kita tercinta yaitu Nabi besar Muhammad Saw, semoga kita kelak mendapatkan syafaat-Nya kelak nanti di yaumil kiamah. Aamiin

Di sini saya akan menceritakan sebuah pengalaman saya saat mengabdi di Pondok saya tercinta yaitu Pondok Pesantren Alquraniyyah.

Setelah Unbk

ujian nasional
sumber:pixabay.com

 

Iya setelah selesai Unbk semua santri kelas XII dikumpulkan di rumah pimpinan.

Setelah semua sudah berkumpul barulah Pimpinan Pon-Pes mengumumkan nama-nama santri yang harus mengabdi di Pesantren selama 1th.

Alhamdulillah nama saya disebut untuk mengabdi di Pesantren selama 1th, kurang lebih yang disuruh mengabdi di Pesantren ada 11 santriawan dan 8 santriawati.

Saya sangat senang bisa mengabdi.

Karena saya bisa memberikan ilmu saya lagi, kepada santri yang saya ajarkan, karena mengabdi itu tugas yang sangat mulia bagi seorang santri.

Saat Puasa

breaking the fast
sumber :pixabay.com

Pengumuman pengabdian saat itu h-10 sebelum puasa.

Diumumkan kembali untuk santri yang disuruh untuk mengabdi yang pendaftaran itu masuk melewati jalur regular.

Untuk santri yang masuk lewat jalur reguler itu perkiraan yang dimintai untuk mengabdi itu ada sekitar 5 orang.

Saat bulan puasa saya dan teman-teman saya membantu pesantren untuk memberikan proposal kepada semua donator.

Diberikan kelompok, masing-masing kelompoknya itu terdiri 2 orang.

Saat itu saya kebagian di daerah Bintaro sektor 7 yang bertepatan di perumahan River Park.

Menjaga Zakat

membayar zakat
sumber pixabay.com

Sebelum pulang seluruh santri diwajibkan untuk membayar zakat sebesar 35rb atau beras sebanyak 3,5 liter.

Zakat itu akan dibagikan kepada semua tetangga-tetangga pondok pesantren Alquraniyyah yang dhuafa, yatim piatu, fakir miskin dan ibu-ibu jompo.

Pada bertepatan malam takbiran Idhul Fitri jam 20:00, saya berdua teman saya disuruh Guru untuk mengambil seluruh propal yang telah saya sebar.

Kurang lebih ada 30 titik yang saya harus ambil.

Saya pun harus lembur, saat sampai pondok pun pada pukul 02:00 pagi.

Lalu sehabis saya laporan ke bagian ketua zakat, saya lalu pulang kerumah pada pukul 02:30 dan Alhamdulillah ketika pulang kerumah saya membawa 2 karung beras kecil.

Kembali Ke Asrama Untuk Mengabdi

kembali kepesantren
sumber google:dakwah.web.id

Saya keasrama itu berbeda dengan santri lainnya, untuk para santri masuk asrama itu pada hari sabtu dan untuk santri baru masuk pada hari minggu.

Saya masuk duluan ke asrama karena untuk membantu merapihkan seluruh asrama dan membantu para pengurus yang ada di sana.

Setelah semuanya sudah masuk ke pesantren, Kbm pun belum berjalan dengan lancar dan semua teman-teman saya yang mengabdi pun belum diberi tugas untuk mengajar.

Pada malam hari itu juga saya dan teman-teman saya yang mengabdi disuruh untuk berkumpul di aula masjid bersama ustad untuk dibagikan tugas-tugas nya selama mengabdi.

Saya mendapatkan tugas sebagai Pasma (pengawas asrama), mengajar Tahsin untuk kelas III pondok, mengajar Tahfidz di kelas IV pondok dan mengajar Btq untuk anak-anak SDIT.

Mengajar Tahsin

mengajari alquran
sumber pixabay.com

Alhamdulillah selama mengajar tahsin semua santri bacaannya sudah lancar tinggal sebagian saja yang panjang pendeknya belum bisa.

Ada ayat yang seharusnya panjang dia malah pendek dan kebalikannya lagi, ada yang ayat yang panjang justru dia malah pendek.

Itu adalah tanggung jawab, saya sebagai seorang guru harus bisa membuat iya tau mana yang ayat panjang dan mana ayat yang harus dibaca pendek.

Saya mengajar tahsin itu setelah ba’da maghrib dan selesainya itu saat sehabis azan isya.

Waktu yang sangat singkat bagi saya, dan saat itu saya mewajibkan kepada santri yang saya ajarkan yang merasa belum mengerti apa itu panjang pendek bacaan suatu ayat, maka saya wajibkan bagi kelima orang ini agar mengaji kembali kepada saya setelah mengaji tahfidz.

Apabila santri ini selama 6 bulan panjang pendeknya masih belum bisa maka saya yang akan ditegur langsung oleh Pimpinan.

Maka dari itu saya mewajibkan kepada seluruh santriawan yang mengaji tahsin sama saya yang merasa belum lancar bacaan panjang pendeknya maka ke kamar saya untuk belajar kembali.

Alhamdulillah semua santri yang saya ajarin pada datang ke kamar saya untuk mengaji kembali.

Mengajar Tahfidz

mengaji
sumber pixabay.com

Saya mengajar tahfidz di kelas IV Pondok, dan pada saat itu.

Kelas IV disuruh menghafal surat al-Kahf, al-Waqiah, ar-Rahman, dan surat Yasin.

Selama 1 semester harus hafal 2 surat, yaitu surat al-kahf dan surat al-Waqiah.

Disemester 2 menghafal surat Ar-Rahman dan surat Yasin.

Kenapa ko gak ngafalin dari juz 1 aja sih?

Iya pertanyaan yang bagus.

Kenapa gak ngafalin dari juz 1 aja. Iya karena, kelas IV ini tidak mengambil program takhosus (program khusus menghafal al-Quran).

Di pesantren saya mempunyai 2 program.

  • Program Takhosus

    : Program yang dimana khusus untuk para penghafal al-Quran dari Juz 1-30 dengan metode mentakrir, dan untuk program takhosus juga untuk pelajaran kitab nya sangat minim berbeda dengan program non takhosus.

  • Program Non Takhosus

    : Untuk program non takhosus ini, hanya menghafalkan surat-surat pilihan saja. Seperti surat Al-Kahf, Ar-Rahman, Yasin, Al-Waqiah, Al-Mulk, Al-Hasyr, Al-Jin, As-Sajadah, Atholaq, juz 30 dan masih banyak lagi.

Itulah 2 program yang berada di pesantren saya.

Akan tetapi semuanya jelas berbeda dengan pelajaran-pelajarannya.

Untuk pelajaran takhosus itu ada jam-jam khususnya untuk belajar kitab.

Yang diajarkan itu gak semua kitab-kitab yang ada di pesantren.

Contohnya, seperti kitab tajwid, qiroat sab’ah, nahwu, shorof, fathul qorb.

Selain itu juga dia lebih memfokuskan kepada hafalan-hafalannyaa.

Seperti ba’da shubuh dia menghafal 1 lembar surat, dan akan disetor ke guru tahfidznya ba’da maghrib, dan ditakrir (diulang) kembali pada ba’da isya.

Untuk pelajaran non takhosus itu lebih banyak karena dia tidak seperti takhosus yang fokusnya hanya menghafal Al-quran.

Untuk pelajaran non takhosus itu hampir semua kitab-kitab yang ada di pondok diajarkan.

Contohnya. Seperti kitab nahwu, shorof, tajwid, fiqh, ulumul quran, ulumul hadist, qiroat sab’ah, tasawuf/tijan darori, mabadi awaliyyah, ta’lim muta’lim, akhlakulibanin, alfiyah Ibnu Malik dll.

Sebenarnya masih banyak lagi kitab-kitab yang diajari, akan tetapi hanya sebagian saja yang saya beri tahu.

Untuk kelas non takhosus itu pelajaran tahfidznya setiap hari senin malam- malam kamis ba’da isya.

Menyetornya pun ke guru masing-masing yang telah ditentukan oleh pihak pondok pesantren.

Mengawas Asrama

asrama
sumber pixabay.com

Selain mengajar tahsin dan tahfidz saya juga di tugaskan untuk mengawas asrama.

Mengawas asrama itu seperti, menertibkan para santri untuk shalat berjamaah, mengaji, sekolah, dan mentertibkan santri untuk tidur pada waktu malam hari.

Menurut saya mengawas asrama itu tugasnya sangat berat.

Kenapa berat?

Iya berat, karena kita menjaga santri sebanyak 30 santri.

Selain itu juga, saya mempunyai tanggung jawab apabila ada salah satu santri kabur kerumah atau kemana yang teman-temannya tidak tahu, maka saya akan melaporkan kepada bagian bidang perizinan.

Apabila bidang perizinan menyuruh saya untuk cari kerumahnya maka saya akan cari.

Sebelum itu juga saya harus menelpon kepada wali santri yang bersangkutan.

Apakah santri yang bernana ini berada di rumah atau tidak. Dan kalau ternyata ada maka saya harus menjemputnya kembali dan akan saya jelaskan kepada wali santri bahwa santri ini kabur dan tidak izin kepada bagian bidang perizinin dan kepada pasma.

Itulah pengalaman saya saat mengabdi.

Saya juga sudah merasakan bagaimana watak dari semua wali santri, ada yang baik, ada yang keras dan ada pula yang wataknya pemarah dan saya juga sudah pernah dimarah-marahi oleh wali santri.

Ingat mengabdi itu tugas yang sangat mulia, saya diberi pesan kepada guru saya, kata beliau apabila kamu belajar kepada seorang gurumu maka jadilah seorang abdi beliau karena kita tidak tahu dari mana keberkahan ilmu yang telah kita dapati. Itulah pesan dari guru saya akan selalu saya ingat dan saya akan amalkan.

kitab talim mutalim
Hakikat Ilmu dalam kitab Ta’lim al-Muta’allim

Teringat saat waktu mengaji kitab ta’lim muta’lim pada bab ke IV fasal tentang mengagungkan ilmu dan ahli ilmu, Sayyidina Ali Krw berkata : Saya adalah seorang hamba sahayanya orang yang telah mengajariku satu huruf, terserah padanya, saya mau dijual, dimerdekakan atau pun tetap di jadikan budak.

Disyairkan untukku dalam hal ini: Aku menyakini lebih haq-haqnya perkara adalah haq seorang guru, Dan- hal itu wajib semua seorang muslim menjaganya.

Sungguh benar-benar berhak dihadiahkan seribu dirham untuknya, sebagai wujud memuliakannya karena telah mengajarkannya satu huruf.

Maksud dari syair tersebut adalah kita harus mengagungkan ilmu dan mengagungkan seorang yang ahli ilmu.

Sayyidina Ali Krw saja seorang yang ahli ilmu, seorang yang pintunya ilmu masih haus untuk menuntut ilmu dan bahkan berkata aku akan mengabdi kepada Guruku walaupun iya telah mengajariku 1 huruf saja, maka saya akan berhak mengabdi kepadanya.

Rasulullah Saw juga pernah bersabda yang artinya Aku adalah kotanya ilmu dan ali adalah pintu nya.

Di sini marilah kita belajar bersama dan kita harus hormat dan patuh kepada ahli ilmu dan senantiasa kita juga harus mengagungkan ilmu-ilmu.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *